Mengetahui Sumur Gali, Kualitas Air dan Pencemarannya

Mengetahui Sumur Gali, Kualitas Air dan Pencemarannya

Mengetahui Sumur Gali, Kualitas Air dan Pencemarannya – Air tanah (ground water) merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah pada daerah akifer yang terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah yang terdapat pada kedalaman ± 15 m. Sedangkan air tanah dalam terdapat setelah lapisan rapat air yang pertama.

Pengambilan air tanah dalam tidak semudah seperti pada air tanah dangkal. Hal ini disebabkan karena harus melalui pengeboran dengan memasukkan pipa sampai kedalaman 100 – 300 m. Jika tekanan air tanah ini besar, maka air dapat menyembur keluar dan disebut sebagai sumur artesis. Sementara itu, mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah.

Mengetahui Sumur Gali, Kualitas Air dan Pencemarannya

Mengetahui Sumur Gali, Kualitas Air dan Pencemarannya

img by tempo.co

Sumur Gali

Sumur gali merupakan bangunan penyadap air atau pengumpul air tanah dengan cara menggali yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu sumber air bersih dengan ke dalam sumur bervariasi antara 5 – 20 m dari permukaan tanah dan ini tergantung pada kedudukan muka air tanah setempat serta morfologi daerah.

Menurut Ditjen PPM dan PLP (1995), kualitas fisik sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan bagi penyediaan air bersih adalah; Pertama, syarat lokasi pembuatan sumur; (a) untuk menghindari pencemaran langsung harus memperhatikan jarak antara sumur dengan lubang sampah dan dengan lubang galian untuk air limbah, jaraknya adalah 10 m dan diusahakan agar letaknya tidak berada di bawah tempat-tempat sumber pencemaran; (b) dibuat di tempat yang ada airnya di dalam tanah; (c) jangan dibuat di tanah yang rendah yang mungkin terendam bila terjadi banjir atau hujan.

Kedua, syarat konstruksi; (a) dinding sumur 3 m dalamnya dari permukaan tanah dan dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar tidak terjadi rembesan; (b) lantai harus kedap air dengan lebar minimal 1 meter dan miring agar air mudah mengalir ke saluran air limbah; (c) diatas tanah dibuat tembok (bibir sumur) yang kedap air minimal 80 cm untuk mencegah pengotoran dari permukaan dan untuk keselamatan si pemakai; (d) jika pengambilan air dengan timba, sebaiknya selalu digantung dan tidak diletakkan di lantai sumur; (e) saluran pembuangan air limbah di sekitar sumur dibuat dari tembok kedap air yang panjangnya minimal 10 m atau dibuat lubang dengan menggali tanah sepanjang 10 m atau lebih.

Kualitas Air

Menurut Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Standar Kualitas Air Bersih, yang dimaksud dengan air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Pada dasarnya air bersih harus memenuhi syarat kualitas yang meliputi syarat biologi, fisika, kimia, mikrobiologis, dan radioaktif.

Pertama, biologis berarti air bersih tidak mengandung mikroorganisme yang nantinya menjadi infiltran tubuh manusia. Mikroorganisme terbagi dalam empat grup yaitu: parasit, bakteri, virus, dan kuman. Dari keempat jenis mikroorganisme tersebut, umumnya yang menjadi parameter kualitas air adalah bakteri seperti Eschericia coli.

Kedua, fisik air bersih terdiri dari kondisi fisik air dan pada umumnya derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, dan bau. Aspek fisik ini sesungguhnya selain penting untuk aspek kesehatan langsung yang terkait dengan kualitas fisik seperti suhu dan keasaman tetapi juga penting untuk menjadi indikator tidak langsung pada persyaratan biologis dan kimiawi, seperti warna, air, dan bau.

Ketiga, kimia menjadi penting karena banyak sekali kandungan kimiawi air yang menyebabkan akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuai dengan proses biokimiawi tubuh. Bahan kimiawi seperti nitrat, arsenik, dan berbagai macam logam berat khususnya air raksa, timah hitam, dan kadmium dapat menjadi gangguan pada tubuh. Termasuk dalam syarat kimia adalah sianida. Sianida merupakan bahan kimia yang banyak terdapat pada singkong sebagai bahan baku tepung tapioka.

Keempat, radioaktif sering dimasukkan sebagai bagian persyaratan fisik, namun sering juga dipisahkan karena jenis pemeriksaannya sangat berbeda dan pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti di sekitar reaktor nuklir.

Sumber Pencemaran Air

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, yang dimaksud dengan pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Sumber pencemar yang paling umum berasal dari pertanian, permukiman, dan limbah industri.

Air tanah yang telah tercemar pada umumnya sukar sekali dikembalikan menjadi air bersih. Penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan serta sisa pestisida di perairan dapat meresap ke dalam tanah, sehingga mencemari air tanah. Permukiman juga menghasilkan limbah, misalnya sampah dan air buangan. Air buangan dari permukiman umumnya mempunyai komposisi yang terdiri dari ekskreta (tinja dan urin), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dimana sebagian besar merupakan bahan-bahan organik.

Limbah permukiman tersebut, jika tidak diolah dapat mencemari air permukaan, air tanah, dan lingkungan hidup. Pembuangan limbah industri ke sungai menyebabkan air sungai tercemar. Bahan pencemar yang berasal dari limbah industri dapat meresap ke dalam air tanah yang menjadi sumber air untuk minum, mencuci, dan mandi.

Proses produksi tapioka memerlukan banyak air untuk memisahkan pati dari hasil parutan ubi kayu. Pati yang larut dalam air harus dipisahkan. Proses produksi industri tapioka dari awal proses sampai dihasilkan tepung tapioka menurut Direktorat PPHP (2005) adalah sebagai berikut:

  1. pengupasan dilakukan dengan cara manual, bertujuan untuk memisahkan daging singkong dari kulitnya. Selama pengupasan, sortasi juga dilakukan untuk memilih singkong berkualitas tinggi dari singkong lainnya. Singkong yang kualitasnya rendah tidak diproses menjadi tapioka dan dijadikan pakan ternak.
  2. pencucian dilakukan dengan cara manual yaitu dengan meremas-remas singkong di dalam bak yang berisi air, bertujuan untuk memisahkan kotoran pada singkong.
  3. parut yang digunakan untuk pemarutan ada 2 macam yaitu parut manual (dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia sepenuhnya) dan parut semi mekanis (digerakkan dengan generator).
  4. pemerasan/ekstraksi dilakukan dengan 2 cara yaitu: pertama, pemerasan bubur singkong yang dilakukan dengan cara manual menggunakan kain saring, kemudian diremas dengan menambahkan air dimana cairan yang diperoleh adalah pati yang ditampung di dalam ember. Kedua, pemerasan bubur singkong dengan saringan goyang (sintrik). Bubur singkong diletakkan di atas saringan yang digerakkan dengan mesin. Pada saat saringan tersebut bergoyang, kemudian ditambahkan air melalui pipa berlubang. Kemudian pati yang dihasilkan ditampung dalam bak pengendapan,
  5. pati hasil ekstraksi diendapkan dalam bak pengendapan selama 4 jam. Air di bagian atas endapan dialirkan dan dibuang, sedangkan endapan diambil dan dikeringkan. Dan
  6. sistem pengeringan menggunakan sinar matahari dilakukan dengan cara menjemur tapioka dalam nampan (widig) atau tambir yang diletakkan di atas rak-rak bambu selama 1-2 hari (tergantung dari cuaca). Tepung tapioka yang dihasilkan sebaiknya mengandung kadar air 15-19%.

Jika anda menginginkan pembuatan sumur bor, silahkan hubungi kami.

Hubungi Kami

E-mail: jp.jasapratama@gmail.com

Telp: 0811 99 666 22 – Hp: 0852 1817 1616

No Comments

    Deja un Comentario